Minggu, 14 September 2008

Spritualitas, Rasionalitas, Profesionalitas

Kenapa orang mendikotomikan antara spiritualitas dan rasionalitas? Bukankah keduanya bisa berjalan seiring. Apa lagi—khususnya—dalam ranah profesional.

Sebagian besar keputusan dan kegiatan di dunia profesional tentu berdasarkan pada pertimbangan rasional. Keputusan tentang strategi marketing, cara kerja yang efektif dan efisien, menetapkan target, menetapkan visi dan misi, menetapkan tujuan, tentang bagaimana cara mencapainya, siapa, dan kapan. Bukankah semua itu harus dilakukan secara rasional.

Lalu di mana letak spiritualitasnya? Spiritualitas menjadi dasar filosofis perusahaan. Motif, tujuan dan cara bekerja suatu perusahaan tidak boleh bertentangan dengan spiritualitas, moral, etika, hukum agama.

Jadi, ketika kita memaksimalkan otak kita untuk merumuskan berbagai strategi kerja, itu tidak berarti kita sedang mengabaikan spiritualitas, tetapi kita justru sedang mensyukuri anugrah Tuhan yang tertinggi yaitu akal budi. Kita justru harus mendayagunakannya seumpama talenta yang telah diberikan kepada kita. Itu harus dikembangkan sampai titik maksimal. Sampai suatu titik di mana akal kita habis diperas dan tak ada lagi yang mampu kita pikirkan, pada saat itulah baru kita boleh berhenti dan berserah kepada Tuhan. Menyerahkan hasil karya kreasi kita itu sebagai persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Hasilnya? Tergantung kepada berkat Tuhan.

Tidak ada komentar: